Selamat Datang Di Blog Yang Penuh Inspiratif....

Welcome to My Blog

Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Posted by Bowo - - 0 komentar

Rini Sugianto adalah salah satu animator Indonesia yang telah sukses menembus level dunia. Ia pun terlibat dalam animasi yang cukup bergengsi, “The Adventures of Tintin” karya Steven Spielberg dan saat ini sedang mengerjakan post production animation untuk film “The Avengers”.
Melalui e-mail, lulusan Academy of Art University, San Francisco ini mengaku mendapatkan banyak pengalaman di dunia animasi.
Dari Game ke Film
Awalnya, Rini bercerita, ia sempat kesulitan mencari kerja. Tetapi kemudian, Rini dapat kesempatan untuk magang di sebuah perusahaan game di San Francisco. “Setelah tiga bulan, mereka decided untuk hire saya full time,” kenangnya.
Rini pernah mencicipi menggarap animasi di beberapa studio game. Mulai dari Stormfront (pembuat game Neverwinter Nights), Offset Studio (Project Offset) dan kemudian Blur Studio (yang melahirkan game seperti Dante’s Inferno, Halo dll). Sejak Agustus 2010, Rini bergabung dengan Weta Digital di Selandia Baru.
Tantangan dan Kesempatan
Meski sudah mencapai level internasional, Rini masih tampak berhati-hati untuk tidak terlalu membangga-banggakan prestasinya. Ia mengaku masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
“Tantangan paling besarnya mungkin untuk tetap menghasil(kan) animasi yang bagus. Animation industry ini very competitive, dan saingannya dari mana-mana. Lulusan-lulusan baru dari sekolah-sekolah animasi juga tidak kalah dengan animator yang sudah bekerja bertahun-tahun,” ia bercerita.
Tapi sisi baiknya, ujar Rini, industri animasi adalah industri yang melibatkan banyak negara. “Jadi bisa kenal dengan orang-orang dari berbagai negara, dan bisa dapet kesempatan untuk bekerja di berbagai negara juga,” paparnya.
Setelah Tintin, yang murni animasi dan digarap penuh oleh Weta Digital, Rini sekarang mengerjakan animasi pasca produksi untuk film The Avengers. Perbedaannya cukup mencolok karena Avengers dikerjakan oleh beberapa perusahaan dan merupakan film live action.
Bagi penggemar film dari komik tentunya The Avengers salah satu yang dinanti-nantikan. Ini akan menjadi titik temu beberapa film laris seperti Captain America, Iron Man dan Thor. Sayangnya, Rini belum bisa membocorkan apa-apa dari film itu.
Animasi Indonesia
Rini mengaku cukup memperhatikan perkembangan animasi di Indonesia. Bahkan selama satu tahun terakhir, ia terlibat sebagai juri dalam sebuah kompetisi yang diadakan komunitas IndoCG.
Menurut Rini, ia mengamati adanya perbaikan kualitas dari animasi yang dihasilkan Indonesia. Animator Indonesia yang bekerja di berbagai negara juga semakin banyak.
Ia pun berharap Indonesia bisa menghasilkan karya animasi yang semakin baik. Tak menutup kemungkinan pula akan lahirnya film animasi layar lebar maupun studio animasi kelas atas dari Indonesia.
Kepada para animator di Tanah Air, ia berpesan: “Saya selalu bilang  untuk never give up, there’s always a way. Terus juga untuk animator-animator: Always ask for critiques. Itu cara paling gampang untuk memajukan skill kita sendiri.”
Semoga kisah Rini bisa jadi motivasi dan inspirasi para penggiat animasi dalam negeri untuk terus berkarya.
[ Read More ]

Posted by Bowo - - 0 komentar

Dengan penghasilan total 1 juta dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry Riana saat berusia 20 tahun terwujud. Saat usianya menginjak 20 tahun, Merry Riana (31) punya mimpi. Dia ingin sebelum berusia 30 tahun sudah mendapatkan ”kebebasan” finansial.
Mimpi itu terwujud. Hanya setahun setelah dia bekerja, tepatnya di usia 23 tahun, Merry sudah berpenghasilan 220.000 dollar Singapura. Kira-kira sekitar Rp 1,5 miliar dengan nilai tukar saat ini. Setahun berikutnya, yaitu pada tahun 2004, dia mendirikan perusahaan Merry Riana Organization (MRO). Dua tahun berikutnya di usia 26 tahun, penghasilan totalnya mencapai 1 juta dollar Singapura -sekitar Rp 7 miliar.
Popularitas Merry melesat. Dia banyak diberitakan media massa di Singapura sebagai miliarder di usia muda. Lho, Singapura?
Meski lahir di Jakarta dari orangtua yang warga Indonesia, Merry mengawali karier sebagai konsultan keuangan, pengusaha, dan menjadi motivator di Singapura. Sejak lulus SMA, anak pertama dari tiga bersaudara ini ”mengungsi” ke Negeri Singa.
Ketika bertemu di Central Park, Jakarta, Minggu (10/7/2011)lalu, beberapa jam sebelum kembali ke Singapura, Merry bercerita sambil mengingat kembali perjalanan hidupnya. Pekan lalu, selama tiga hari, Merry ada di Indonesia untuk menjadi pembicara atas undangan sebuah perusahaan di Semarang, Jawa Tengah.
”Ya, sudah lama juga saya di Singapura. Meski rencana kembali ke Indonesia belum terlaksana, setidaknya pada tahun ini saya lebih sering datang ke Indonesia karena lebih banyak kegiatan yang dilaksanakan di sini,” kata Merry.
Kerusuhan 1998
Perjalanan hidup Merry di Singapura berawal ketika terjadi kerusuhan besar di Jakarta tahun 1998. Cita-cita untuk kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti buyar karena kejadian tersebut. Orangtua Merry kemudian memutuskan mengirimkan putrinya ke Singapura dengan alasan keselamatan.
”Waktu itu rasanya seperti ada dalam film perang. Saya diminta pergi agar saya selamat,” kata Merry merasakan kesedihan yang terjadi 13 tahun lalu.
Tanpa persiapan yang memadai untuk kuliah di luar negeri, Merry sempat gagal dalam tes bahasa Inggris di Nanyang Technological University. Tanpa persiapan bekal dana yang memadai pula, Merry meminjam dana dari Pemerintah Singapura. Tak hanya untuk biaya kuliah, tetapi juga untuk hidup sehari-hari. ”Utang saya totalnya 40.000 dollar Singapura,” kata Merry.
Dengan uang saku hanya 10 dollar per minggu, hidupnya harus superhemat. Untuk makan, misalnya, Merry lebih sering makan roti atau mi instan, atau bahkan berpuasa.
Ketika menyadari hidupnya tak berubah meski sudah memasuki tahun kedua kuliah, Merry mulai membangun mimpi. ”Saya membuat resolusi ketika ulang tahun ke-20. Saya harus punya kebebasan finansial sebelum usia 30. Dengan kata lain, harus jadi orang sukses. The lowest point in my life membuat saya ingin mewujudkan mimpi tersebut,” ujar Merry.
Meski sudah ada mimpi dan didukung semangat, Merry belum menentukan cara mewujudkannya. Pikirannya baru terbuka setelah magang di perusahaan produsen semikonduktor.
Dari pengalaman ini, Merry melakukan hitung-hitungan, seandainya dia menjadi karyawan perusahaan seusai kuliah. ”Dari perhitungan tersebut, ternyata saya baru bisa melunasi utang dalam waktu 10 tahun, tanpa tabungan. Kalau begitu caranya, mimpi saya tak akan terwujud,” kata Merry yang akhirnya memutuskan memilih jalan berwirausaha untuk mencapai mimpinya.
Karena tak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman bisnis, Merry mengumpulkan informasi dengan mengikuti berbagai seminar dan melibatkan diri dalam organisasi kemahasiswaan yang berhubungan dengan dunia bisnis. Merry juga mencoba praktik dengan terjun ke multi level marketing meski akhirnya rugi 200 dollar.
Merry bahkan pernah kehilangan 10.000 dollar ketika memutar uangnya di bisnis saham. Mentalnya sempat jatuh meski dalam kondisi tersebut masih bisa menyelesaikan kuliah.
Tamat kuliah, barulah Merry mempersiapkan diri dengan matang. Belajar dari pengalaman para pengusaha sukses, dia memulai dari sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit, hingga 14 jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu enam bulan setelah bekerja, Merry bisa melunasi utang pada Pemerintah Singapura. Tunai!
Kesuksesan lain pun datang. Karena kinerjanya, Merry bisa membentuk tim sendiri hingga akhirnya mendirikan MRO. Dengan penghasilan total 1 juta dollar Singapura di usia 26 tahun, ambisi Merry saat berusia 20 tahun terwujud.
Berbagi
Namun, seiring usia yang kian dewasa, menghasilkan uang hingga jutaan dollar bukan menjadi satu-satunya tujuan hidup Merry. Pengagum Oprah Winfrey ini lebih menikmati hidup ketika orang lain memperoleh kesuksesan seperti dia.
Pengalaman meraih sukses dibagikan kepada orang lain dengan berbagai cara, seperti menjadi pembicara di seminar, perusahaan, sekolah, serta melalui media seperti jejaring sosial, media massa, dan menulis buku.
Bersama timnya di MRO, Merry memiliki program pemberdayaan perempuan dan anak-anak muda. Anggota timnya di lembaga ini bahkan tergolong muda, berusia 20-30 tahun. ”Saya ingin menampung orang muda yang punya ambisi dan semangat seperti saya,” katanya.
Keinginannya untuk berbagi ini tak hanya dilakukan di Singapura. Pada ulang tahunnya ke-30, Merry membuat resolusi baru, yaitu memberi dampak positif pada satu juta orang di Asia, terutama di tanah kelahirannya, Indonesia.
Seperti MacGyver
Merry, yang sukses di bidang jasa keuangan dan kian sibuk dengan kegiatannya menjadi motivator, pernah punya cita-cita lain. Sewaktu kecil, anak sulung dari Suanto Sosrosaputro (62) dan Lynda Sanian (62) ini pernah punya keinginan untuk menjadi seperti sang ayah yang seorang insinyur elektro.
”Waktu kecil, kalau ditanya mau jadi apa, saya selalu jawab ingin seperti papa. Saya senang melihat papa mengutak-atik peralatan elektronik, seperti MacGyver,” kata Merry.
Cita-cita ini bahkan melekat hingga lulus SMA. Merry kuliah di Jurusan Teknik Elektro Nanyang Technological University setelah sebelumnya bercita-cita kuliah dengan jurusan yang sama di Universitas Trisakti.
Namun, perjalanan hidup Merry berubah. Meski bisa meraih gelar insinyur dalam waktu empat tahun, ilmu elektro yang dikuasainya tak terpakai dalam kariernya.
”Paling-paling dipakai di rumah. Kalau TV atau kulkas rusak, saya masih bisa memperbaiki, he-he-he. Tetapi, bukan berarti kuliah saya tak berguna. Semua proses yang saya jalani selama kuliah, telah membawa saya menjadi seperti sekarang ini,” kata Merry.
• Nama: Merry Riana
• Tempat tanggal lahir: Jakarta, 29 Mei 1980
• Nama suami: Alva Tjenderasa (31)
• Nama anak: Alvernia Mary Liu (2,5)
• Pendidikan: S-1 Teknik Elektro Nanyang Technological University, Singapura (1998-2002)
• Pekerjaan: Group Director Merry Riana Organization
• Penghargaan:
- Salah satu pengusaha terbaik di Singapura dari Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura (2008)
- Salah satu wanita paling sukses dan inspiratif dari Menteri Kepemudaan dan Olahraga Singapura (2010)
- Wanita paling inspiratif pada salah satu majalah bulanan Inspirational Woman Magazine (2011)
- Salah satu eksekutif paling profesional dari penampilan dan keahlian berkomunikasi dari surat kabar My Paper, Singapura (2010)
- Duta LG Asia, Watson, dan Canon (2010-2011)
Sumber: KOMPAS-Yulia Sapthiani
[ Read More ]

Posted by Bowo - - 0 komentar

Setelah rendang dan nasi goreng masuk dalam daftar 100 makanan terlezat dunia, lagi-lagi Indonesia ‘mengirimkan’ wakilnya dalam daftar CNN. Kali ini, seorang bidan profesional di Bali masuk dalam daftar 10 besar CNN Heroes, sebuah daftar berisi orang-orang yang memberi sumbangsih luar biasa dalam membantu orang-orang di sekitar mereka.
Robin Lim, demikian nama bidan tersebut, terpilih karena dedikasinya memberi layanan kehamilan dan persalinan gratis pada wanita Indonesia yang kurang mampu sejak 1994. Sebagai wujud dedikasinya, ia mendirikan sebuah yayasan bernama Bumi Sehat Bali sebagai wujud dedikasinya pada 2003 dan hingga kini telah menolong ribuan ibu di Bali dan Aceh.
Wanita yang kini menetap di Ubud, Bali bersama keluarganya itu juga telah menulis beberapa buku laris terkait persalinan. Lim juga telah menyabet banyak penghargaan atas dedikasinya itu.
Bidan anggota North American Registry of Midwives dan Asosiasi Perbidanan Indonesia ini bersama 9 nama lainnya akan menerima hadiah uang sebesar US$50 ribu (Rp455 juta), dan kisahnya akan diceritakan oleh selebriti kenamaan. Satu CNN Heroes yang beruntung akan mendapatkan bantuan uang sebesar US$255 ribu (Rp2,3 miliar) untuk membantu sumbangsih mereka, serta dinobatkan sebagai CNN Hero of The Year.
Polling untuk menentukan pemenang CNN Heroes masih akan dibuka hingga 7 Desember 2011 di situs web www.cnnheroes.com.
CNN menyatakan dalam siaran persnya bahwa bantuan tahunan ini diberikan untuk menghormati dan memberdayakan individu yang membuat kontribusi yang luar biasa untuk membantu meningkatkan kehidupan orang lain.
“Kami berharap dapat membantu memberdayakan individu-individu tanpa pamrih untuk tekun dalam usaha kemanusiaan mereka menciptakan kemajuan, dan bangga untuk berbagi cerita mereka sebagai 10 besar CNN Heroes,” ujar Jim Walton, kepala CNN Worldwide. (umi)
[ Read More ]

Posted by Bowo - - 0 komentar

Apakah setiap pengusaha yang sukses pernah mengalami kegagalan? Sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan salah seorang juri nasional Wirausaha Mandiri kepada R Agung Nugroho Susanto (25), pemilik bisnis Simply Fresh Laundry  saat proses penjurian Wirausaha Mandiri Tingkat Nasional di Hotel Sultan, Jakarta pada akhir tahun 2009.

Dihadapan para juri, dengan jelas, alumnus Universitas Gadjah Mada ini mengiyakan. Bahkan Agung menambahkan, jika ingin sukses  berbisnis,seorang pewirausaha harus mengenyam pengalaman kegagalan terlebih dahulu.
Pengalaman kegagalan dalam menjalankan bisnis, menurut Agung, adalah ongkos belajar yang sangat penting bagi pembelajaran bisnis berikutnya.
Perjalanan Agung untuk memulai bisnis sejak masih mahasiswa telah membuktikannya. Setidaknya, sejak mahasiswa tingkat pertama, Agung yang kelahiran Lampung dan sejak sekolah menengah tingkat pertama sudah merantau ke Yogyakarta ini,telah mencoba memulai berbagai usaha, mulai dari usaha distro,- hingga membuka gerai jual beli handphone. Namun dua usaha yang sudah dijalani ini tidak berkembang seperti yang diharapkan. Persaingan yang ketat,- dan juga menjamurnya bisnis serupa membuat Agung  kelelahan mengelola usahanya.
Tahun 2006 saat bisnis laundry kiloan menjamur di Yogyakarta, Agung mencoba bisnis laundry kiloan, Simply Fresh Laundry. Dipilihnya bisnis laundry kiloan, karena bisnis jasa ini relatif mudah mengelolanya, tidak memerlukan modal yang besar, dan memiliki pangsa pasar yang besar.  Tenaga kerja yang diperlukan juga tidak perlu pendidikan yang tinggi.
Saat itu, sudah jamak jika di Yogyakarta para mahasiswa, bahkan masyarakat umum  lebih memilih mencuci pakaiannya di laundry kiloan daripada mencuci sendiri. Perubahan gaya hidup masyarakat yang memilih mendatangi laundry kiloan daripada mencuci pakaian sendiri adalah sebuah prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Belum lagi pasar yang lain, seperti rumah sakit, hotel, spa, restoran, hingga pemilik club olah raga, dan lainnya.

Bisnis dari Modal Kecil 
Berapa modal yang diperlukan untuk mendirikan bisnis ini? Tidak banyak, untuk membuat usaha laundry kiloan,  Agung hanya memerlukan 1 mesin cuci, 1 mesin pengering, dan sewa tempat usaha di lokasi yang strategis.
Modal yang diperlukan saat itu kira-kira mencapai Rp30jutaan. Modal ini ia peroleh dari pinjaman kredit dengan menggadaikan BPKB motor miliknya,sebagian pinjaman dari orangtua, pinjam ke teman, dan sebagian dari sisa modal usaha sebelumnya.
Dengan tekad yang kuat Agung mengelola usaha laundry ini. Dan seperti yang diproyeksikan sebelumnya bahwa gerai jasa laundry miliknya ini diminati banyak pelanggan, sehingga dalam waktu hanya satu bulan saja, outlet Simply fresh Laundry miliknya merupakan outlet laundry kiloan paling ramai di Yogyakarta, meskipun di jalan yang sama terdapat 5 gerai laundry kiloan dengan merek berbeda.    
Salah satu kunci untuk memperoleh pelanggan banyak, lanjut Agung adalah dengan selalu melakukan inovasi-inovasi dalam mengembangkan usahanya, diantaranya gerai laundry nya hanya menggunakan  deterjen ramah lingkungan (limbah deterjen yang dapat menyuburkan tanaman), menggunakan teknologi ultra violet (air yang digunakan bebas bakteri), memberikan garansi produk, menggunakan alat pengepak press plastik, memberikan pelayanan delivery service kepada pelanggan serta memiliki jaringan keagenan yang merata di lingkungan pelanggan.
Bahkan di beberapa tempat tertentu gerainya juga menempatkan pelayanan ‘drive thru’ dan buka 24 jam. Selain itu, Simply Fresh Laundry juga memberikan pelayanan cuci kilat hanya 4 jam sudah jadi, mencuci berdasarkan washing care label tips, membuat membership khusus, komputerisasi dengan sofware khusus, menggunakan barcode scanner, packaging ekslusif dan,   pelayanan yang ramah. Selain itu, ia juga menyediakan tujuh pilihan aroma pewangi pakaian sehingga konsumen dapat memilih jenis pewangi yang diinginkan. Bahkan harganyapun sangat bersaing, hanya Rp2500/kg.   
Langkah pemasaran dengan menggandeng media, menjadi sponsor event, menciptakan personal branding dengan wawancara di berbagai media cetak maupun elektronik, menyebar brosur di sasaran tertentu, memasang balon udara di atas outlet hingga memberikan hadiah dan bonus, voucher bagi pelanggan loyal, serta mengembangkan sistem keagenan dengan menggandeng minimarket, warnet, gerai handphone dengan sistem bagi hasil merupakan strategi pemasaran yang membuat Simply Fresh Laundry terus berkembang hingga kini. 

Pertaruhan Untuk Menjadi Wirausahawan
Usai lulus kuliah dari Fakultas Hukum UGM tahun 2007, Agung menghadapi sebuah dilema. Sisi lain ia ingin menjadi pebisnis, tetapi kedua orangtuanya menginginkan ia menjadi karyawan disebuah instansi bonafid.
“Orangtua saya melarang saya melanjutkan bisnis laundry kiloan, padahal saya sudah memiliki 3 gerai laundry dan sedang ramai-ramainya,” ujar Agung yang ayahnya berprofesi sebagai pengacara hukum, sedangkan kakak laki-lakinya berprofesi sebagai jaksa, dan kakak perempuannya adalah seorang dokter.
Hanya karena ingin menyenangkan kedua orangtuanya, Agung mencoba mengikuti tes penerimaan pegawai Bank Indonesia di Yogyakarta yang disarankan ayahnya. Ia lulus berbagai tes tertulis dan wawancara, dengan menyisihkan 8000 kandidat calon lainnya. Ketika itu, hanya tinggal satu langkah untuk menjadi pegawai Bank Indonesia yang banyak diidam-idamkan oleh lulusan baru, yaitu wawancara di Jakarta.
Di tengah kegalauan untuk meneruskan usahanya, Agung meyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia ingin menjadi pewirausaha. Ia memohon tidak melanjutkan mengikuti tes tahap wawancara ke Jakarta untuk masuk menjadi pegawai Bank Indonesia, karena ingin melanjutkan usahanya, dan mohon diberi waktu satu tahun untuk membuktikan usaha yang dirintisnya.
“Saat itu saya berjanji, jika dalam waktu satu tahun tidak berhasil, saya siap bekerja dimanapun,” cetusnya .

Mengembangkan Bisnis
 Perjalanan baru telah ia putuskan. Setelah melihat gerai laundry kiloannya tumbuh dan berkembang, Agung memutuskan untuk meminjam modal dari bank untuk mengembangkan usahanya.  Modal ini digunakan untuk menciptakan sistem dan meningkatkan performa usahanya.
 Di saat yang sama, ketika usahanya telah memiliki sistem yang kuat, Agung mengembangkan dan membiakkan Simply Fresh Laundry dengan cara waralaba. Akhir tahun 2007, gerainya sudah mencapai 18 outlet dengan 87 agen, tahun 2008 gerainya meningkat menjadi 42 outlet dengan 125 agen, dan akhir tahun 2009 outletnya telah mencapai lebih dari 110 outlet dengan 203 agen yang tersebar di kota-kota Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua,  dengan omzet mencapai Rp3 miliar per bulan.
Dihadapan dewan juri Wirausaha Mandiri di Jakarta, Agung memaparkan prospek bisnisnya yang akan merambah ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia dan bahkan ke Timur Tengah.
Proyeksi outlet, yang dikembangkan melalui sistem waralaba juga tak tanggung-tanggung, mencapai 285 outlet pada tahun 2010, meningkat menjadi 525 outlet di tahun 2011, dan mencapai 850 outlet di tahun 2012, dan diharapkan pada tahun 2013 outlet Simply Fresh Laundry telah memiliki 1200 outlet, dengan kebutuhan sumber daya manusia mencapai ribuan lapangan kerja.
Langkah yang dilakukan untuk mencapai proyeksi tersebut dilakukan dengan menciptakan inovasi mesin cuci sendiri yang mampu menyelesaikan pekerjaan cuci hanya dalam waktu 10 menit saja.
Selain itu, inovasi mesin cuci yang akan dibuat sendiri nantinya mampu menekan biaya franchise sehingga semakin banyak orang yang tertarik membuka bisnis laundry kiloan dalam  jaringan bisnis waralaba Simply Fresh Laundry dibawah bendera perusahaan PT.Sushantco Indonesia.
“Saya memiliki misi menjadikan produk Indonesia bisa merambah ke pasar dunia seperti layaknya jaringan waralaba Starbucks ataupun Mc Donalds,” cetusnya.
[ Read More ]

Posted by Bowo - - 0 komentar

Dengan menyandang gelar Sarjana Teknik di pertengahan tahun 2003 dari sebuah Universitas Negeri di Sumatra ternyata tidak membuat segalanya menjadi mudah. Saya bukanlah dari keluarga yang berada, sehingga untuk memperoleh impian saya  harus benar-benar bangun dengan jerih payah sendiri. Berbekal ijazah, saya yakin bisa menjadi harapan untuk orang tua dan keluarga. Akan tetapi nyatanya tidak. Gaji pertama yang saya peroleh hanya Rp.1.200.000,-. Setelah ditambah ini itu selama 3 tahun hanya tertambah dua kalinya, tapi harus mengorbankan seluruh waktu. Dalam benak, khayalan menjadi tumpuan keluarga tak mungkin terpenuhi kalau hanya menjalankan kehidupan seperti ini.

Dalam proses pembelajaran muncul ide-ide bisnis. Ketika bulan-bulan pertama menikah di tahun 2004 saya mencoba membuat usaha rumahan dengan modal kado hadiah kawinan yaitu kompor minyak tanah. Istri saya menggoreng kerupuk yang dibeli di pasar, dan dikemas sederhana kemudian saya distribusikan ke warung-warung sekitar juga rumah  makan. Lumayan, tapi capek. Karena dikerjakan sendiri. Ketika timbul ide untuk memperkerjakan saudara untuk membantu usaha, ternyata tidak ada yang bersedia. Akhirnya usaha pertama yang saya bangun tutup dengan sempurna. Tapi herannya tak ada kata gagal bagi saya..Muncul ide baru.
Karena lumayan suka mencoba resep kue, akhirnya muncul ide untuk memasarkan produk sederhana jajanan pasar ke kantin-kantin PT di Mukakuning. Diawali dari tempat kerja saya bekerja. Berjalan sempurna, tapi tetap saja capek karena hanya dikerjakan sendiri. Dalam masa pencarian saya menemukan sebuah buku yang cukup memukau. Rich Dad Poor Dad, benar-benar membuat saya lebih berani mengambil resiko. Sedikit pinjaman dari koperasi membuat saya mempunyai rumah makan kecil-kecilan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Tapi hanya berusia dua bulan saja, karena saya memang tidak punya pengalaman di bidang itu, ditambah sudah ada saingan sehingga sulit untuk bersaing. Ketika itu saya mempunyai tiga karyawan dan satu koki. Untuk mengurangi kerugian, saya menjual sebagian harta peninggalan rumah makan. Cukup menyakitkan. Inilah kali pertama saya mengalami kerugian yang cukup besar untuk ukuran saya, 8 juta rupiah. Namun tak cukup sampai disitu. Saya yakin bahwa suatu saat saya pasti bisa menjadi seperti yang saya harapkan. Yaitu punya usaha dan bisa membantu orang sekitar terutama keluarga.

Saya menemukan ide baru lagi yang lebih fresh dan gila. Ini diilhami ketika saya membeli CD seminar motivasi melalui internet. Event Organizer. Itu muncul begitu saja. Saya berusaha mencaritahu apa EO sebenarnya melalui buku-buku dan internet. Saya ingin mendatangkan seorang motivator yang dikemas menjadi seminar yang eksklusif dan menarik. Melalui informasi beberapa teman, mereka merekomendasikan nama Jaya Setiabudi. Dengan cepat proposal seminar bersama Pak Jaya saya selesaikan. Itulah awal saya berkenalan dengan Pak Jaya. Diluar dugaan ternyata Pak Jaya sudah begitu seringnya memberikan seminar diwilayah Mukakuning. Namun  beliau menyarankan untuk memanggil Bob Sadino, pengusaha gaek yang tersohor itu. Dengan cepat no. telp Om Bob didapat. Dan saya langsung menghubungi beliau. Tapi dengan alasan kondisi yang tidak mengijinkan untuk bepergian keluar kota, maka saya mengundang Made Ngurah Bagiana pengusaha burger yang tumbuh dari bawah. Tapi tak cukup sampai disitu, saya menambah tantangan dengan mengundang Helmi Yahya sebagai pembicara utama. Tapi kenyataannya peserta tidak seperti yang saya harapkan. Saat itu saya mengalami kerugian yang sangat sangat besar untuk ukuran saya.

Lagi-lagi tak menyurutkan niat saya untuk berusaha. Malah kini saya benar-benar ingin fokus di bisnis, karena pada akhirnya saya berenti bekerja. Saya memang harus memutar otak agar bisa melanjutkan impian dan hidup. Ditambah saya telah punya bayi kecil. Akhirnya dalam rangka memperingati hari anak Indonesia saya mengangkat acara di salah satu Mall terkemuka di Batam. Dengan tema Ceria Anak Indonesia, saya menggandeng merk susu formula ternama sebagai co.partner. Dengan dasar bahwa susu formula tersebut mempunyai layanan customer care setiap bulannya, maka saya memanfaatkan itu sebagai sarana promosi saya yang paling efektif. Tanpa saya duga antusias ibu-ibu terhadap acara saya sangat besar, akhirnya ini awal pencerahan bagi saya. Ini usaha saya yang mendatangkan cukup banyak rupiah. Tawaran mengisi acara serupa selama beberapa waktu sempat menghampiri ada yang menguntungkan dan ada juga yang sepi peserta.

Muncul lagi ide berikutnya, terlahir karena saya selalu haus untuk menimba ilmu di bidang kewirausahaan akhirnya dengan bakat saya yang suka cuap-cuap di hadapan teman-teman di PT, saya memberanikan membuka entrepreneur course. Dengan biaya seadanya dan pinjaman ruko dari teman, usaha ini berjalan 3 bulan dengan coach saya sendiri. Ketika itu ide awal bisnis Kek pisang sudah muncul. Pemasaran masih di sekitar rumah saja. Karena antusias dari tetangga lumayan OK, saya memberanikan untuk memperluas pasar ke daerah Mukakuning. Dengan konsep kemitraan, produk saya bisa dinikmati pekerja di Mukakuning. Berjalan dengan waktu saya mulai merasakan prospek bisnis saya kali ini cukup bagus. Untuk itu sampai sekarang saya tetap focus pada bisnis Kek Pisang ini .

Awalnya dengan peralatan yang sangat sederhana saya dan istri memproduksi kek pisang ini . Dengan resep original saya yakin kek pisang ini bisa menjadi makanan yang banyak diminati berbagai lapisan masyarakat dan usia.Ternyata benar awalnya saya dan istri hanya memproduksi 3 loyang sehari dengan pemasaran  ke tetangga dan warung sekitar rumah. Dengan system kemitraan kek pisang saya melaju bak roket di kawasan Batamindo. Mulai dengan produksi dengan kapasitas oven yang sangat minim akhirnya saya bisa membeli oven yang bisa memuat 20 loyang ukuran 30x 10 cm setiap sekali pembakaran. Saya merekrut 1 orang karyawan untuk membantu produksi disamping saya sendiri juga turut bekerja, tapi karena permintaan cukup ramai akhirnya saya memutuskan untuk menambah 2 orang karyawan lagi dalam hitungan waktu 2 minggu. Semua dikerjakan di dalam rumah tempat tinggal saya yang bertipe 36. Enam bulan saya harus berbagi dengan tempat usaha, akhirnya dengan sedikit keuntungan dan pinjaman dari Bank, saya menyewa sebuah Ruko. Saat di ruko karyawan saya berjumlah 7 orang. Sistem kemitraan ini muncul dengan harapan pemasaran dari mulut ke mulut lebih efektif, sehingga mitra selalu berpromosi di lingkungan kerjanya dan sekitarnya. Saya memberikan fee Rp3000,- per kotaknya. Dalam waktu 6 bulan mitra saya mencapai 300 orang dengan wilayah kerja meliputi Batamindo, Tanjung Uncang, kawasan industri di Batam Centre. Selain itu saya juga menyiapkan bonus-bonus menarik apabila mitra berhasil mencapai target yaitu berupa uang tunai Rp.100rb untuk setiap penjualan 100 kotak. Hal ini dengan maksud supaya mitra terus giat mempromosikan produk saya, selain menambah pendapatan mitra tentunya.

Namun setelah berjalan setahun sistem kemitraan agak menurun ditambah bahan baku produksi meningkat tajam, akhirnya saya terpaksa melakukan revisi harga kek pisang. Dan ini tidak menguntungkan di pihak mitra, karena harga susah terjangkau dikalangan pekerja PT. Saya pun memutar otak bagaimana agar karyawan saya bisa tetap bekerja dan mendapat upah yang layak. Akhirnya terilham dari Batam yang tidak mempunyai Oleh-Oleh atau buah tangan. Saya mencoba menembus pasar dan memposisikan kek pisang saya sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang harus dicari masyarakat yang ingin keluar kota. Bika ambon yang dari medan awalnya bukan makanan asli Medan, tapi karena dengan pembelajaran yang sempurna bika Ambon berhasil merebut hati wisatawan yang berkunjung ke Medan. Bika Ambon- nya Medan berhasil mengedukasi pasar, kenapa saya tidak..???

Saya mulai mempromosikan Kek Pisang saya sebagai sesuatu yang harus dibawa ketika meninggalkan Batam. Dengan Billboad, promosi di media, dll diharapkan produk saya bisa dikenal luas khususnya bagi masyarakat yang ingin meninggalkan kota Batam. Dengan perubahan misi ini, akhirnya produksi kek pisang saya kembali bergairah. Saya menambah 3 orang karyawan lagi untuk system delivery.

Melihat peluang yang cukup bagus, dan keunikan produk ini, saya memberanikan diri untuk membuka 3 cabang lagi di daerah Batam Centre, Nagoya, dan Penuin. Semua ini dengan bantuan dari pihak Bank yang telah mulai percaya kepada saya. Tantangan dan resiko yang saya ambil semakin besar. 3 outlet baru bisa saya buka dalam waktu 3 bulan. Belum genap sebulan sambutan pasar sangatlah bagus, untuk ukuran toko yang baru buka. Saya terus belajar melalui buku-buku dan media internet agar misi saya bisa diterima masyarakat. Hingga saat ini saya telah memiliki 6 outlet dan 85 karyawan. Saya optimis impian saya menjadi tumpuan hidup keluarga bisa terwujud. Karena sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin jika kita menggantungkan impian dan proses pembelajaran yang tak kenal lelah, semua yang kita impikan akan datang dihadapan kita. Di usia saya yang masih muda, 30 tahun saya yakin oleh-oleh khas Batam kek pisang Villa bisa melesat bak roket di Batam khususnya dan di Indonesia umumnya.Amiin?

Sumber :  http://wirausahamandiri.co.id
[ Read More ]