Selamat Datang Di Blog Yang Penuh Inspiratif....

Welcome to My Blog

Posted by Bowo - - 0 komentar

Stasiun kota, sebuah tempat yang ramai perantau. Senja itu Ririn melepas kepergian seorang terkasih menuju ke luar kota. Mungkin inilah senja kelabu bagi Ririn. Dia harus rela melepas kepergian sang kekasih, Ervan yang lebih memilih melanjutkan pendidikan di luar kota

"beib apa menurutmu aku bisa hubungan jarak jauh nantinya?" Ririn duduk disamping Ervan.
"pasti bisa beib, aku yakin pasti bisa, tenang ngak akan ada apa-apa, percaya sama aku beib" Ervan menjelaskan.
"tapi beib........." perkataan Ririn terpotong desisan Ervan menandai bahwa Ririn tak perlu ragu.
"tenang aja ga' usah mikir macam-macam" Ervan memeluk Ririn mencoba menenangkan.
"tut... tut... tut..." suara klakson kereta api terdengar dari kejauhan.
Melihat kereta api yang ditunggu-tunggu telah datang seketika saja para calon penumpang kereta api segera berdiri bersiap menyambut datangnya kereta api. Tak terkecuali Ervan yg sudah siap di peron bersama Ririn dan kedua orang tuanya yang juga ikut serta mengantar anaknya.
"Bun, Yah, Ervan pamit" Ervan menyalami tangan ayah dan bundanya sebagai tanda ucapan perpisahan dan memohon doa restu.
Suara bising mesin kerela dan aneka macam suara yang juga keluar dari mulut calon penumpang yang akan naik ke kereta sungguh telah memenuhi peron stasiun. Diantara kesibukan penumpang pegawai stasiun sibuk mengatur agar tak terjadi penyumbatan di salah satu pintu masuk kereta. Saat semua penumpang sibuk berebut untuk masuk ke dalam kereta api, Ervan telah ada di dalam duduk dekat jendela menatap Ririn dan keluarganya.
"Rin kau jaga diri ya" Ervan berdiri pada celah jendela.
"Van kau juga harus jaga diri, jagan lupa telepon ayah atau bunda kalau sudah sampai" kata Ayah Ervan mendekati anaknya.
"baik Yah" jawab Ervan.
Ayah dan Bunda Ervan pergi berjalan meninggalkan peron kereta yang masih di isi oleh beberapa penumpang yang akan pergi dengan kereta lain. Inilah stasiun kota selalu ramai setiap hari. Ervan naik kereta api yang mengarah keselatan.
Sudah sekitar satu bulan Ririn dapat menjalani hubungan jarak jauh. Tak ada hal yang menghalangi atau menghambat hubungan mereka. Hubungan jarak jauh Ririn dan Ervan berjalan sesuai dengan keinginan Ervan bukan Ririn. Hal ini terlihat pada saat mereka bertemu atau berhubungan melalui media telekomunikasi Ririn selalu ingin tetap bersama Ervan untuk waktu yang lebih lama lagi.
Ririn lebih sulit menjalani hubungan ini, dia terkadang iri melihat temannya yang sering berduaan. Meskipun sebenarnya mereka masih bisa bertemu seminggu sekali, tapi Ririn merasa hal ini masih kurang.
"hai Rin" sapa Dimas salah satu teman sekelas Ririn.
"Hai juga" jawab Ririn singkat sambil merapikan seragam sekolahnya yang sebenarnya sudah terlihat rapi.
"jalan ma aku yuk, gak ada acara kan nanti sore?" ajak Dimas tanpa cangung d kelas.
"bisa, mau kemana memangnya?" Ririn duduk di bangkunya.
"udah nanti toh kamu juga akan tau sendiri. Ku kan cuma ingin ngajak kamu jalan aja, kau juga boleh ajak Rika" Dimas menawarkan.
"baiklah aku akan ikut tapi sama Rika" akhirnya Ririn mengiyakan tawaran Dimas. Walaupun sebenarnya tanpa Rika pun Ririn sudah pasti menerima ajakan dari Dimas. Toh saat ini Ririn lagi suntuk dan bosen di rumah ga' ada kerjaan lagi pula Ervan juga ga' akan marah.
Tepat jam tiga sore Ririn dan Rika beserta Dimas berkumpul d depan rumah Ririn. Mereka sedang asyik bercanda dan bersendau gurau menunggu redupnya cahaya matahari.
Dimas memang cowok yang cukup tampan. Banyak desas desus yang keluar tentang anak ini mulai dari dia broken home sampai playboy yang sering mainin cewek. Tapi bagi Ririn itu hanya desas desus saja lagi pula Ririn juga nggak akan terpikat bila dirayu dimas. Ririn hanya mengangga kalau Dimas adalah temannya nggak akan pernah lebih. Lagi pula Dimas emang cocok dijadikan teman daripada yang lainnya toh sebenarnya Ririn juga sudah punya Ervan yang sangat dia sayangi dan cintai sampai kapanpun setidaknya begitu yang dia inginkan dari dalam hati kecilnya.
Ririn lebih asyik berbincang dengan Dimas daripada dengan Rika. Maklum baru kali ini Ririn dekat dengan semenjak Dimas menjadi teman sekelasnya. Jarang sekali dia berbincang dengan Dimas apalagi kalau sampai bercanda. Paling-paling Ririn dan Dimas hanya bertegur sapa saja tak sampai harus berbincangan apalagi sampai bergurau. Beda dengan Rika yang sudah menjadi tempat sampah Ririn dalam menuangkan semua permasahannya. Rika telah mengetahui Ririn lebih baik dari siapapun termasuk dari pacar Ririn Ervan.
Rika memang teman satu bangku Ririn lebih dari 5 tahun. Rika bagi Ririn telah menjadi belahan jiwa Ririn.
Twin Cafe, terletak tak jauh dari SMA NEGERI 2. Twin Cafe merupakan tempat favorit Ririn bila sedang ingin keluar. Cafe yang lengkap dengan beberapa meja billyard dan beberapa permainan modern lainnya menjadi daya tarik tersendiri. Kalau di bilang Twin Cafe adalah yang terlengkap di kota kecil ini memang benar. Di cafe ini para remaja yang haus akan hiburan dan kesenangan.
"Rin kau mau apa?" tanya dimas yang berdiri disamping Ririn.
"kentang goreng sama jus alvokat" Ririn merapikan rambutnya.
"kau ka?" Dimas menanyai Rika.
"sama kayak Ririn aja" Dimas langsung menuju tempat pemesan yang ada di depan cafe.
"Mas ada apa nih kenapa kau ajak jalan Ririn? Nggak biasanya seperti ini?" Rika menanyai Dimas yang baru saja kembali dari memesan makanan.
"ya nggak ada apa-apa sih lagi pengen aja" jawab Dimas santai.
"pasti ada maksud lain?" Ririn ikut-ikutan memberi pertanyaan.
"nggak ada beneran" Dimas terlihat kaget.
"tenang aja kali Mas ku kan cuma bercanda hahahahaha" Ririn dan Rika tertawa melihat tingkah Dimas yang tiba-tiba kaget.
“Mas kau ini tenang aja kayak penjahat yang ketangkap basah aja” Ririn menambah i.
"ya kau kan tahu Rik apa yang saat ini melandaku" Dimas terlihat sedikit murung.
"ya aku tahu mas" Jawab Rika mengambil kentang goreng yang baru datang.
"kau ada masalah Mas?" tanya Ririn penasaran mendengar percakapan Rika dan Dimas.
"Rin mau main?" ajak Dimas.
"main apa?" Ririn bertanya sambil mengambil potongan kentang goreng.
"ayolah" Dimas langsung saja menarik tangan kanan Ririn.
Ririn pun sebenarnya tak begitu ingin tapi dia pasrah aja di tarik sama Dimas. Rika yang ada dihadapan Ririn hanya terdiam menyaksikan aksi mereka berdu. Rika bahkan terlihat heran dengan memasang wajah bagai orang bodoh.

"Mas tunggu" Ririn menghentikan tingkah Dimas yang menyeretnya bagai binatang ternak.
Seketika mendengar itu Dimas berhenti seraya melepaskan gengaman tangannya "maaf ya Rin aku memaksamu tapi aku ingin melupakan masalahku Rin".
"iya Mas aku tahu tenang aja aku pasti juga akan mau kok" giliran Ririn yang menyeret Dimas.
Ririn dan Dimas berhenti pada sebuah panggung Pam yang saat ini masih digunakan oleh dua orang Remaja. Dimas dan Ririn duduk pada sebuah bangku yang memang tersedia umtuk para pengunjung yang menunggu giliran.
"Mas kau punya masalah apa?" tanya Ririn membuka sebuah perbincangan.
"ah biasa masalah kecil tentang cewek" jawab Dimas santai menanggapi pertanyaan Ririn.
"pasti kau baru putus sama pacarmu ya kan Mas?" Tanya Ririn.
"iya, makanya aku ingin bermain dan melupakan semua itu" jawaban Dimas terdengar serius.
"sudah tuh" Ririn berdiri mengantikan dua pemain yang tadinya telah lama memainkan permainan ini.
Rika hanya melihat Ririn dan Dimas bermain dari meja. Kentang goreng yang telah dia pesan sudah habis dia lahap sendiri. Melihat Ririn dan Dimas yang sedang bersenang-senang membuat wajahnya tersenyum.
"huh capek juga" Ririn sudah kembali dari arena bermain dan langsung menyeruput jus alvokat miliknya.
"la Dimas mana?" Rika bertanya pada Ririn.
"masih asyik bermain sendiri, katanya mau sampai benar-benar lelah" jawab Ririn yang telah duduk di hadapan Rika.
"gila kali tu anak" Rika mengambil kentang goreng milik Ririn.
"pulang yuk Ervan SMS terus nih" Ririn menunjukan Handphonenya.
"gimana dengan Dimas?" tanya Rika.
"ah sudahlah nanti aku kasih tahu dia saat kita pulang aku akan mampir ke arena bermain memberikan tasnya ini" Ririn merapikan semua bawaan Dimas ke dalam tas Dimas.
"baiklah" Rika berdiri merapikan bawaannya.
Ririn berjalan menuju arena bermain tempat Dimas sedang asyik bermain. Dimas terlihat sedang asyik bermain tembak-tembakan "Mas aku dan Rika pulang dulu ini barang mu makasih ya Mas".
"sama-sama Rin aku juga makasih, hati-hati dijalan Rin" Dimas menerima pemberian Ririn dan meletakan tasnya d kursi dekat arena bermainnya.
Senja, tak ada pemandangan seindah dan setenang senja. Langit yang jangga dan bundarnya sang mentari sore serta burung-burung yang lalu lalang mencari tempat berlindung. Suara gemuruh kesibukan sudah tak terdengar lagi. Langit jingga melukiskan keindahan dunha senja. Langit jingga bagai kanvas dengan awan menjadi penghias dan cahaya sang surya yang ikut menjadi warna dalam lukisan senja.
Ririn duduk di depan kamarnya menyaksikan keindahan lukisan sang Illahi. Di lantai dua rumah, Ririn duduk termenung. Dia terlelap dalam keindahan senja hari. Ririn termenung dalam keindahan senja dan lamuman kehidupannya.
Sudah dua hari semenjak Ririn pergi bersama dimas dan Rika. Ririn belum dihubungi atau menghubungi Ervan. Entah apa yang menghalangi, sepertinya Ririn tidak ingin berhubungi dengan Ervan takut kalau nanti mengganggu belajar sang kekasih. Sepertinya Ervan juga masih serius belajar dengan tidak menghubungi Ririn selama dua hari.
Walaupun sebenarnya ingin tapi Ririn mengurungkan niatnya.
Suara perkusi nyaring mengagetkan Ririn dari lamunannya. Bunyi handphone Ririn"beibbeib" itulah yang tertulis pada layar handphone milih Ririn. Ririm tersenyum ringat menampakan gigi berbehel miliknya, pertanda apabila sebuah kebahagian telah terpancar dari perasaan Ririn.
"hallo beib" Ririn langsung mengangkat telepon dari Ervan.
"hallo juga beib, gimana kabarnya?" suara balasan dari Ervan keluar dari speaker handphone yang tertempel ditelingga Ririn.
"baik-baik aja beib, tapi aku kangen kamu, ada apa nih beib terdengar dari suaramu kau bahagia sekali, ada kabar baik apa nih" Ririn duduk di kursi kamar menghadap keluar jendela kamar Ririn.
"aku akan libur panjang beib, karena ujianku telah selesai dan aku dapat nilai terbaik dikelas beib" suara Ervan sedikit terpotong dengan nafas bahagianya yang tak dapat dia sembunyikan.
"wah selamat ya beib, kapan kau pulang beib?" Ririn terlihat ikut bahagia mendengar kabar baik dari sang kekasih.
"mungkin minggu depan beib aku pulang, aku sudah kagen banget sama kamu. Tapi aku minggu ini g' bisa pulang beib" Suara Ervan terdengar lebih pelan.

"nggak apa-apa beib, lagi pula baik minggu ini ataupun minggu depan kan kita bisa bertemu" jawab Ririn dengan bijak dan tenang.
"allahuakbar allahuakbar" suara azdan terdengar sangat keras dari kamar Ririn.
"Beib sudah magrib sudah dulu ya nanti dilanjutkan" Ririn meminta izin kepada Ervan untuk mengakhiri perbincangan.
"iya beib jangan kupa sholat ya. Wassalamuaikum" Ervan mengakhiri perbincangannya.
"iya beib, waalaikum salam" Ririn langsung menutup telepon dari Ervan.
Kelas Ririn mulai sepi pada jam sekolah seperti ini hanya ada beberapa anak saja yang masih sibuk dengan urusan masing-masing atau beberapa anak yang masih sibuk berbincang-bincang. Ririn tak peduli dengan mereka dia ingin cepat pulang menginggat besok adalah kepulangan sang kekasih tercinta.
Tempat parkir terlihat lebih lenggang hanya beberapa sepeda motor yang masih terparkir. Mungkin kakak kelas yang sibuk dengan persiapan ujian nasional.
"Rin" terdengar seseorang memanggil nama Rin.
“siapa ya?" balas Ririn sambil mencari-cari pusat sumber suara.
"dibelakang Rin" Ririn langsung menengok kebelakang dan kaget melihat Dimas tiba-tiba berdiri dibelakangnya.
"kenapa Dimas masih ada disini bukankah tadi anak laki-laki sudah pulang duluan dan tidak ikut jam tambahan, apa yang dia lakukan disini?" batin Ririn melihat kemunculan Dimas.
"Rin ada yang ingin kukatakan padamu" Dimas memegang tangan Ririn.
"apa sih Mas apa nggak bisa besok atau nanti aja kau telepon" Ririn melepaskan gengaman tangan Dimas.
"nggak Rin ini harus aku katakan sekarang dan langsung" tatapan mata Dimas mempertegas keinginan Dimas yang ingin berbincang empat mata dengan Ririn.
"ada apa sih Mas, ya dah katakan sekarang" jawab Ririn mendengar perkataan dari Dimas.
"Rin kau tahu nggak aku sangat nyaman di dekatmu, kau mengerti tentang aku dan kau tak menjauhi diriku walaupun kau tahu siapa diriku, Rin aku sangat ingin terus bersamamu tiap saat dan tiap waktu" Dimas memutus perkataannya.
"terus?" tanya Ririn acuh.

"maukah kau jadi pacarku Rin?" betapa kagetnya Ririn mendengar perkataan yang diucapkan oleh Dimas tanpa rasa beban dan suatu hal yang menghalanginya.
"apa kau bilang Mas?" tanya Ririn tak percaya.
"iya Rin, apa kau mau jadi pacarku" Dimas mengulangi perkataannya lagi dan "plak" sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Dimas.
"Mas kau tahu kan aku sudah punya pacar dan kau juga tahu siapa orangnya kan, apa kau kira aku akan menerimamu mas" Ririn terlihat sangat marah sekali.
"iya aku tahu Rin, tak apa aku menjadi yang kedua Rin" jawab Dimas santai dan "plak" Ririn menampar pipi kiri Dimas untuk kedua kalinya.
"kau tak tahu malu Mas, aku telah menolakmu dan aku nggak ingin menduakan Ervan, aku harap kita cukup sampai disini" Ririn meninggalkan Dimas dan langsung mengambil motor dan pergi untuk kembali kerumahnya.
Malam yang suram semenjak kejadian tadi siang di tempat parkir. Ririn menjadi memikirkan tentang perlakuannya terhadap Dimas tadi siang apa dia terlalu kejam dengan perlakuan tersebut "ah tidak emang pantas dia mendapatkan hal seperti itu" gerutu Ririn di ruang tamu.
Masih nada musik perkusi sebagai tanda untuk telepon masuk.
"Hallo han" Ririn mengangkat telepon dari Rehan ketua kelas Ririn.
"Dimas Rin dia ada di ruang Osis dan terus memanggil namamu, kau bisa datang kesini?" Rehan terdengar panik.
"baiklah han aku akan kesana" jawab Ririn dan langsung menutup telepon dari Rehan.
Di sekolahan masih ramai dengan beberapa anak yang sibuk untuk mempersiapkan bazar besok malam. Ririn langsung menuju keruang osis dan langsung mencari posisi Rehan.
"mana Han si Dimas?" tanya Ririn begitu ketemu dengan Rehan.
"ada di ruang dalam sedang tiduran Rin" Rehan menunjuk ke sebuah pintu.
Ririn langsung masuk ke dalam dan mendekati Dimas yang terkapar di matras. Ririn kaget melihat kondisi Dimas yang seperti itu.
"Mas kau tak apa-apakan?" Ririn menyentuh kepala Dimas.
"Rin bukan itu yang sakit tapi ini" Dimas memegang tangan Ririn dan meletakannya di dadanya.
"APA-APAAN INI" terdengar suara teriakan dari arah pintu.
"Ervan" Ririn kaget melihat Ervan berdiri di depan pintu.
"sabar Van ini tidak seperti yang kau kira" Dimas mencoba menenangkan.
"aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Beib kau sungguh keterlaluan" Ervan menarik tangan Ririn.
"Van jangan kau bertindak seperti itu pada Ririn" Dimas terbangun dari tempat tidurnya dan menunjuki Ervan.
"Dimas" Ririn kaget melihat kodisi Dimas yang terlihat sehat.
"apa urusanmu dia kekasihku, kau jagan macam-macam" Ervan mendekati Dimas yang telah berdiri.
"kau mau apa mendekatiku" Dimas memantang dengan sombong kepada Ervan.
"ini yang akan ku lakukan" "plak" suara tonjokan terdengar ketika tangan Ervan menyentuh muka Dimas.
"oh begitu ya ini, plak" Dimas membalas pukulan dari Ervan.
"yayang Ervan ayo bantu aku" Rika berteriak dan langsung masuk ke dalam ruang osis.
"yayang Ervan, katamu Ka" betapa kagetnya Ririn mendengar teriakan dari Rika.
"eh Ririn kau disini" Rika kaget dan terlihat malu melihat Ririn dan setika pertempuran Dimas Ervan terhenti.
"Rin ini tidak..." perkataan Ervan terhenti oleh perkataan Ririn.
"aku tak butuh penjelasanmu Van, sudah berapa lama?" Ririn menatap Rika dengan mata berair dan nanar.
"Rin aku ada urusan dengan anak-anak" Ririn menahan tangan Rika yang akan pergi meninggalkan ruangan.
"jangan pergi" suara Ririn tersendu-sendu dan air mata terus mengalir dari mata Ririn.
"kau lihatkan Rin apa yang pria ini lakukan" Dimas mulai bicara.
"dasar kau" "plak" Ervan memukul perut Dimas lagi.
"CUKUP" teriak Ririn "Van, Mas, dan kau Rik" aku tak tahu apa yang sedang terjadi disini dan apa yang telah terjadi"
"Rin...." perkataan Rika terpotong.
"biar aku selesaikan dulu perkataanku Rik aku ingin menyelesaikan ini semua dan ingin menghentikan kerumitan saat ini" Ririn menatap Rika.
"tapi Rin..." perkataan Ervan juga terpotong.
"JANGAN KALIAN POTONG PERKATAANKU" Ririn terlihat sangat marah.
"baik Rin" jawab Ervan lirih.

"Van aku ingin kita putus sampai kau benahi semua kesalahanmu dan kau Mas aku ingin kau jangan menharap cinta dariku aku tak mencintaimu sedikitpun dan untuk kau Rik persahabatan tak akan pernah bisa terputus tapi untuk sementara aku ingin kita tidak bersahabat lagi sampai kalian berdua dapat membuatku kembali seperti dulu" Ririn langsung pergi dari Ruangan
"Rin sudah selesai?" tanya Rehan yang baru saja muncul.
"Han ayo antar aku pulang" Ririn menarik tangan Rehan.
"Rin tunggu" mereka bertiga keluar dan ingin mengejar Ririn yang sudah naik motor bersama dengan ketua kelasnya Rehan.

Leave a Reply